Showing posts with label Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Ilmu. Show all posts

Sunday, December 3, 2017

Dampak Konflik dan Upaya Mengatasi Konflik

Dampak Adanya Konflik Terhadap Masyarakat
a. Dampak positif dari adanya konflik
  1. Bertambahnya solidaritas intern dan rasa in-group suatu kelompok. Apabila terjadi pertentangan antara kelompok kelompok, solidaritas antar anggota di dalam masing-masing  kelompok itu akan meningkat sekali. Solidaritas di dalam suatu kelompok, yang pada situasi normal sulit dikembangkan, akan langsung meningkat pesat saat terjadinya konflik dengan pihak-pihak luar.
  2. Konflik di dalam masyarakat biasanya akan menggugah warga masyarakat yang semula pasif menjadi aktif dalam memainkan peranan tertentu di dalam masyarakat. 

b. Dampak negatif dari adanya konflik 
  1. Hancurnya kesatuan kelompok. Jika konflik yang tidak berhasil diselesaikan menimbulkan kekerasan atau perang, maka sudah barang tentu kesatuan kelompok tersebut akan mengalami kehancuran.
  2. Adanya perubahan kepribadian individu. Artinya, di dalam suatu kelompok yang mengalami konflik, maka seseorang atau sekelompok orang yang semula memiliki kepribadian pendiam, penyabar menjadi beringas, agresif dan mudah marah, lebih-lebih jika konflik tersebut berujung pada kekerasan.
  3. Hancurnya nilai-nilai dan norma sosial yang ada. Antara nilai-nilai dan norma sosial dengan konflik terdapat hubungan yang bersifat korelasional, artinya bisa saja terjadi konflik  berdampak pada hancurnya nilai-nilai dan norma sosial akibat ketidak patuhan anggota masyarakat akibat dari konflik.


Upaya Mengatasi Konflik
Menurut Nasikun, bentuk-bentuk pengendalian konflik ada enam yaitu: 

1. Konsiliasi (conciliation)
Pengendalian semacam ini terwujud melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan tumbuhnya pola diskusi dan pengambilan keputusan-keputusan diantara pihak-pihak yang berlawanan mengenai persoalan-persoalan yang mereka pertentangkan.

2. Mediasi (mediation)
Bentuk pengendalian ini dilakukan bila kedua belah pihak yang bersengketa bersama-sama sepakat untk memberikan nasihat nasihatnya tentang bagaimana mereka sebaiknya menyelesaikan pertentangan mereka

3. Arbitrasi
berasal dari kata latin arbitrium, artinya melalui pengadilan, dengan seorang hakim (arbiter) sebagai pengambil keputusan. Arbitrasi berbeda dengan konsiliasi dan mediasi. Seorang arbiter memberi keputusan yang mengikat kedua belah pihak yang bersengketa, artinya keputusan seorang hakim harus ditaati. Apabila salah satu pihak tidak menerima keputusan itu, ia dapat naik banding kepada pengadilan yang lebih tinggi sampai instansi pengadilan nasional yang tertinggi.

4. Perwasitan
Di dalam hal ini kedua belah pihak yang bertentangan bersepakat untuk memberikan keputusan-keputusan tertentu untuk menyelesaikan konflik yang terjadi diantara mereka.

Bentuk-bentuk Konflik dan Faktor Penyebab Konflik

Bentuk-bentuk Konflik 
Secara garis besar berbagai konflik dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk konflik berikut ini:

1. Berdasarkan sifatnya 
Berdasarkan sifatnya, konflik dapat dibedakan menjadi konflik destruktuif dan konflik konstruktif.
  • Konflik Destruktif, Merupakan konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun kelompok terhadap pihak lain. Pada konflik ini terjadi bentrokan-bentrokan fisik yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda seperti konflik Poso, Ambon, Kupang, Sambas, dan lain sebagainya.
  • Konflik Konstruktif, Merupakan konflik yang bersifat fungsional, konflik ini muncul karena adanya perbedaan pendapat dari kelompok-kelompok dalam menghadapi suatu permasalahan. Konflik ini akan menghasilkan suatu konsensus dari berbagai pendapat tersebut dan menghasilkan suatu perbaikan. Misalnya perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi.

2. Berdasarkan Posisi Pelaku yang Berkonflik 
  • Konflik Vertikal, Merupakan konflik antar komponen masyarakat di dalam satu struktur yang memiliki hierarki. Contohnya, konflik yang terjadi antara atasan dengan bawahan dalam sebuah kantor.
  • Konflik Horizontal, Merupakan konflik yang terjadi antara individu atau kelompok yang memiliki kedudukan yang relatif sama. Contohnya konflik yang terjadi antar organisasi massa.
  • Konflik Diagonal, Merupakan konflik yang terjadi karena adanya ketidakadilan alokasi sumber daya ke seluruh organisasi sehingga menimbulkan pertentangan yang ekstrim. Contohnya konflik yang terjadi di Aceh.


Faktor Penyebab Konflik
Terjadinya konflik sosial umumnya melalui dua tahap, yaitu dimulai dari tahap keretakan sosial (disorganisasi) yang terus berlanjut ke tahap perpecahan (disintegrasi). Timbulnya gejalagejala disorganisasi dan disintegrasi adalah akibat dari hal-hal berikut:
  1. Ketidaksepahaman para anggota kelompok tentang tujuan masyarakat yang pada awalnya menjadi pedoman bersama.
  2. Norma-norma sosial tidak membantu lagi anggota masyarakat dalam mencapai tujuan yang telah disepakati.
  3. Kaidah-kaidah dalam kelompok yang dihayati oleh anggotanya bertentangan satu sama lain.
  4. Sangsi menjadi lemah bahkan tidak dilaksanakan dengan konsekuen.
  5. Tindakan anggota kelompok sudah bertentangan dengan norma-norma kelompok. 

Penyebab konflik sangatlah kompleks yang dilatarbelakangi oleh berbagai dimensi dan peristiwa sosial. Konflik yang terjadi dalam masyarakat bisa berlatar belakang ekonomi, politik, kekuasaan, budaya, agama, dan kepentingan lainnya. Menurut DuBois dan Miley, sumber utama terjadinya konflik dalam masyarakat adalah adanya ketidakadilan sosial, diskriminasi terhadap hak-hak individu dan kelompok, dan tidak adanya penghargaan terhadap keberagaman.

Salah satu sebab terjadinya konflik ialah karena reaksi yang diberikan oleh dua orang/ kelompok atau lebih dalam situasi yang sama berbeda-beda. Selain itu, konflik mudah terjadi apabila prasangka telah berlangsung lama. Menurut Gerungan (1966), prasangka social (social prejudice) terjadi karena: 
  1. Kurangnya pengetahuan dan pengertian tentang hidup pihak lain
  2. Adanya kepentingan perseorangan atau golongan
  3. Ketidakinsyafan akan kerugian dari akibat prasangka 

Dalam sosiologi, konflik merupakan gambaran tentang terjadinya percekcokan, perselisihan, ketegangan atau pertentangan sebagai akibat dari perbedaan-perbedaan yang muncul dalam kehidupan masyarakat, baik perbedaan secara individual maupun perbedaan kelompok. 

Perbedaan tersebut dapat berupa perbedaan pendapat, pandangan, penafsiran, pemahaman, kepentingan atau perbedaan yang lebih luas dan umum, seperti perbedaan agama, ras, suku bangsa, bahasa, profesi, golongan politik dan kepercayaan. Sumber terjadinya konflik dalam kehidupan masyarakat dapat dikategorikan ke dalam lima faktor yaitu: 

1. Faktor perbedaan individu dalam masyarakat.  
Perbedaan invididu ini terjadi berdasarkan pada perbedaan antar anggota masyarakat secara orang perorangan, baik secara fisik dan mental maupun perbedaan material dan non-material.

Perbedaan fisik lebih menekankan pada keadaan jasmaniah, misalnya rupa atau kecantikan, kesempurnaan indera dan bentuk tubuh. Perbedaan mental, misalnya kecakapan, kemampuan dan keterampilan, pendirian atau perasaa. Sedangkan perbedaan material lebih dicirikan dengan kepemilikan harta benda, misalnya orang 
kaya atau orang miskin, dan perbedaan non-material berkenaan dengan status sosial seseorang. Sehingga dari perbedaan-perbedaan tersebut menimbulkan pertikaian atau bentrokan di antara anggota masyarakat. 

2. Perbedaan pola kebudayaan 
Perbedaan yang terdapat antar daerah atau suku bangsa yang memiliki budaya yang berbeda, atau terdapat dalam satu daerah yang sama karena perbedaan paham, agama dan pandangan hidup. Sehingga dari perbedaan pola kebudayaan tersebut dapat melahirkan dan memperkuat entiment primordial yang dapat mengarah kepada terjadinya konflik antar golongan atau kelompok. Misalnya di daerah transmigrasi terjadi konflik antara kaum pendatang dengan penduduk asli.

3. Perbedaan status sosial 
Status sosial adalah kedudukan seseorang dalam kelompok atau masyarakat, yang untuk mendapatkannya ada yang bisa diusahakan (achieved status) dan ada pula status yang diperoleh dengan tanpa diusahakan (ascribed status). Status yang dapat diusahakan misalnya melalui pendidikan, orang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan berada pada status sosial lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah, sedangkan status yang tanpa diusahakan dapat diperoleh melalui keturunan, seperti kasta dalam Agama Hindu atau kebangsawanan. Terdapatnya beragam kedudukan dalam masyarakat dapat menimbulkan perselisihan untuk mendapatkan kedudukan yang baik, terutama ascribed status.

4. Perbedaan kepentingan 
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia memiliki kepentingan dan usaha yang berbeda, baik kebutuhan dasar maupun kebutuhan sosial, yang dapat menimbulkan pertentangan antar individu atau kelompok. Pada masyarakat nomaden sering terjadi pertikaian antar kelompok untuk mendapatkan daerah yang subur, sedangkan pada masyarakat industri sering terjadi perselisihan untuk mendapatkan bahan baku atau konsumen dan dalam aspek kehidupan politik terjadi perselisihan antar kelompok untuk mendapatkan partisipan. Jadi konflik yang terjadi karena perbedaan kepentingan dapat terjadi pada setiap masyarakat dengan berbagai tingkatannya.

5. Terjadinya perubahan sosial 
Perubahan sosial dengan konflik terdapat hubungan karena perubahan sosial dapat terjadi akibat konflik sosial dan sebaliknya perubahan sosial dapat menimbulkan konflik. Masuknya unsur-unsur baru ke dalam suatu sistem sosial dapat menimbulkan perubahan sosial yang dapat dapat memicu terjadinya konflik apabila anggota masyarakat tidak seluruhnya menerima. Misalnya, penggunaan traktor pada bidang pertanian telah merubah struktur mata pencaharian dan melahirkan konflik antara petani dengan buruh tani (tenaga kerja).

Pengertian Konflik | Apa itu Konflik?

KONFLIK

Istilah “konflik” secara etimologis berasal dari bahasa Latin “con” yang berarti bersama dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. Pada umumnya istilah konflik sosial mengandung suatu rangkaian fenomena pertentangan dan pertikaian antar pribadi melalui dari konflik kelas sampai pada pertentangan dan peperangan internacional.

Coser mendefinisikan konflik sosial sebagai suatu perjuangan terhadap nilai dan pengakuan terhadap status yang langka, kemudian kekuasaan dan sumber-sumber pertentangan dinetralisir atau dilangsungkan atau dieliminir saingannya.

Dalam pengertian lain, konflik adalah merupakan suatu proses sosial yang berlangsung dengan melibatkan orang-orang atau kelompok kelompok yang saling menantang dengan ancaman kekerasan.

Menurut Lawang (1994), konflik diartikan sebagai perjuangan untuk memperoleh halhal yang langka seperti nilai, status, kekuasaan, dan sebagainya dimana tujuan mereka berkonflik itu tidak hanya memperoleh keuntungan tetapi juga untuk menundukkan pesaingnya. Konflik dapat diartikan sebagai benturan kekuatan dan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lain dalam proses perebutan sumber-sumber kemasyarakatan (ekonomi, politik, sosial dan budaya) yang relatif terbatas.

Konflik dapat terjadi pada setiap individu dan kelompok dalam masyarakat, yang menuntut adanya menyelesaikan. Setiap orang sudah dapat dipastikan pernah mengalami konflik, tidak terkecuali Anda, baik konflik secara pribadi maupun kelompok. Konflik pribadi dapat terjadi antar individu atau dalam diri sendiri. Perbedaan pandangan atau kepentingan atau pendapat dapat menjadi pemicu bagi munculnya konflik pribadi. Konflik yang terjadi dalam diri individu dapat muncul manakala terdapat perbedaan antara idealisme yang dimilikinya dengan kenyataan. Konflik yang terjadi antara individu dengan individu, misalnya konflik di antara sesame teman di sekolah. Konflik antara individu dengan kelompok, misalnya konflik antara seorang majikan dengan buruhnya. Sedangkan konflik antara kelompok dengan kelompok, misalnya para pedagang kaki lima dengan para petugas ketertiban. Konflik kelompok dapat terjadi manakala dua kelompok mengalami perbedaan kepentingan atau perbedaan pendapat.

Konflik yang tidak teratasi menjadi potensi laten bagi terjadinya disintegrasi sosial.. Dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, konflik merupakan proses sosial. Konflik merupakan salah satu fakta sosial yang berbeda dengan fakta individual. Menurut Durkheim, fakta sosial memiliki tiga karakteristik yakni: bersifat eksternal terhadap individu, bersifat memaksa individu yang berada dalam lingkungan sosialnya, dan bersifat umum yakni tersebar di masyarakat. Fakta sosial meliputi: norma, moral, kepercayaan, kebiasaan, pola berfikir, dan pendapat umum, yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat. Fakta sosial tersebut disebut representatif kolektif. 

Apabila kita amati dan perhatikan berbagai gejala dan fenomena kehidupan seharihari, baik yang kita alami sendiri maupun melalui berbagai sumber informasi (seperti surat kabar, majalah, radio, TV, dll) tentang konflik, diperkirakan ada sejumlah pola konflik, yakni sebagai berikut:
  1. Konflik internal terjadi dalam suatu masyarakat local
  2. Konflik antara masyarakat lokal dengan pemerintah daerah sendiri
  3. Konflik masyarakat antar daerah, suku, agama, dan ras
  4. Konflik antar dua atau lebih pemerintah daerah
  5. Konflik antara masyarakat lokal dengan pemerintah pusat sebagai penyelenggara Negara
  6. Konflik antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat
  7. Konflik antar elit di pemerintah pusat yang berimbas pada atau diikuti oleh konflik masyarakat di tingkat lokal 

Konflik merupakan proses sosial yang akan terus terjadi dalam diri manusia dan di dalam masyarakat, baik secara pribadi atau kelompok, dalam rangka perubahan untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara menentang lawannya. Konflik dapat memicu terjadinya kekerasan yang biasanya ditandai oleh adanya kerusuhan, pengrusakan dan perkelahian.. Kekerasan merupakan gejala yang muncul sebagai salah satu efek dari konflik. Tindakan kekerasan ini sering tidak jelas tujuannya, ada kalanya hanya untuk kesenangan belaka, ikut dengan orang lain karena takut disebut tidak memiliki rasa kebersamaan, atau karena ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang sengaja menciptakan kekacauan, dan tidak lahir dari tuntutan-tuntutan kelompok yang menentang, serta pelakunya tidak memahami tindakan yang mereka lakukan. 

Salah satu contoh konflik yang diakhiri dengan kekerasan dan tidak memiliki tujuan yang jelas, misalnya tawuran antar pelajar. Berbagai sebab yang memicu terjadinya tawuran tersebut beraneka ragam, akan tetapi tetap saja tujuannya tidak jelas, apa yang mereka (para pelajar) diperebutkan atau diperjuangkan. Biasanya pemicu tawuran antar pelajar hanya sepele, mungkin hanya kesalahan bicara atau olok-olok antar teman.

Taylor dan Hudson (dalam Syahbana: 1999), mengkategorikan lima indikator dalam menggambarkan intensitas konflik yang terjadi dalam masyarakat Indonesia. Kelima Indikator tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Demonstrasi (a protest demonstration). Dewasa ini, demonstrasi menjadi fenomena sosial yang terjadi hampir setiap hari. Demonstrasi dilakukan oleh sejumlah orang yang memiliki kepedulian yang sama untuk melakukan protes melalui tindakan tanpa kekerasan. Protes tersebut diarahkan terhadap suatu rezim, pemerintah, atau pimpinan dari rezim atau pemerintah tersebut; atau terhadap ideologi, kebijaksanaan, dan tindakan baik yang sedang direncanakan maupun yang sudah dilaksanakan. Misalnya, demostrasi yang dilakukan oleh para guru terhadap rancangan undang-undang guru dan dosen.
  2. Kerusuhan. Kerusuhan pada dasarnya sama dengan demonstrasi, namun memiliki perbedaan dalam pelaksanaannya. Demonstrasi adalah protes tanpa kekerasan sedangkan kerusuhan adalah protes dengan penggunaan kekerasan yang mengarah pada tindakan anarkis. Kerusuhan biasanya diikuti dengan pengrusakan barangbarang oleh para pelaku kerusuhan, yang seringkali menimbulkan penyiksaan dan pemukulan atas pelaku-pelaku kerusuhan tersebut. Penggunaan alat-alat pengendalian kerusuhan oleh para petugas keamanan di satu pihak, dan penggunaan berbagai macam senjata atau alat pemukul oleh para pelaku kerusuhan di lain pihak. Kerusuhan biasanya ditandai oleh spontanitas sebagai akibat dari suatu insiden dan perilaku kelompok yang kacau.
  3. Serangan bersenjata (armed attack). Serangan bersenjata adalah suatu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok tertentu untuk suatu kepentingan dengan maksud melemahkan atau bahkan menghancurkan kelompok lain. Serangan bersenjatan ini seringkali ditandai oleh terjadinya pertumpahan darah, pergulatan fisik, atau pengrusakan barang-barang, sebagai akibat dari penggunaan alat atau senjata yang dipakai para penyerang.
  4. Kematian. Kematian yang dimaksud adalah sebagai akibat dari adanya konflik yang direspon melalui demonstrasi, kerusuhan, maupun serangan bersenjata. Konflik yang menyebabkan munculnya kematian menunjukkan indikator tingkatan konflik yang memiliki intensitas tinggi.

Sumber: Rowland B. F. Pasaribu, Konflik Sosial, hlm. 465 – 466

Monday, September 25, 2017

Apa Itu Bimbingan konseling (BK) ? | Pengertian Bimbingan Konseling (BK)

Bimbingan konseling, terdiri dari kata bimbingan dan konseling, yaitu proses membantu individu menemukan dan mengembangkan potensi pendidikan, kejuruan, dan psikologis mereka dan dengan demikian mencapai tingkat optimal dari kebahagiaan pribadi dan kegunaan sosial.

Konsep konseling pada dasarnya demokratis karena asumsi yang mendasari teori dan praktiknya adalah, pertama, bahwa setiap individu memiliki hak untuk membentuk takdirnya sendiri dan, kedua, bahwa anggota masyarakat yang relatif dewasa dan berpengalaman bertanggung jawab untuk memastikan bahwa Pilihan masing-masing orang akan melayani kepentingannya sendiri dan kepentingan masyarakat. Ini tersirat dalam filosofi konseling bahwa tujuan ini saling melengkapi dan bukannya saling bertentangan. Fungsi dari mereka yang membimbing anak-anak dan remaja bukanlah untuk melakukan kompromi antara persyaratan individu di satu pihak dan tuntutan masyarakat di sisi lain. Ini agak mengarahkan orang ke arah peluang yang diberikan oleh lingkungannya yang dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan dan aspirasi pribadinya.

Bimbingan, dalam pengertian ini, adalah aktivitas yang meresap di mana banyak orang dan organisasi ikut serta. Hal ini diberikan kepada individu oleh orang tua, saudara, dan teman mereka dan oleh masyarakat luas melalui berbagai lembaga pendidikan, industri, sosial, agama, dan politik dan, terutama, melalui pers dan layanan penyiaran. Bagian dari panduan semacam itu mungkin adalah pemberian informasi yang memungkinkan orang lain meningkatkan ruang lingkup perilaku penjelajahan mereka. Konselor bimbingan, misalnya, dapat memberikan informasi tentang kemampuan dan minat seseorang sebagaimana ditentukan oleh tes psikologis atau tentang kesempatan pendidikan dan persyaratan berbagai pekerjaan. Namun, konselor yang kompeten tidak berusaha memecahkan masalah orang-orang, konselor mencoba untuk mengklarifikasi pemikiran orang itu sendiri.

Konselor profesional dan psikolog konseling biasanya ditemukan di lingkungan institusi seperti sekolah menengah dan perguruan tinggi, industri swasta, lembaga masyarakat, penjara, dan militer, serta dalam praktik pribadi. Mereka sering dipanggil untuk membantu individu mengatasi kesedihan tragedi tak terduga.

10 Fenomena Aneh yang Terjadi di Pikiran Manusia

Sejak manusia ada, pikiran kita telah membentuk dunia yang kita jalani. Dari pemecahan masalah hingga membentuk gagasan dan mengeksekusinya, semua hal yang kita lihat di sekitar kita adalah produk dari pikiran manusia, namun ada banyak pemikiran kita selain kemampuan untuk memberi ide dan berinovasi. Simak beberapa fenomena aneh yang bisa terjadi dalam pikiran kita.

1. Déjà vu - merasa bahwa situasi yang sedang dialami telah dialami di masa lalu

Déjà vu merasa Anda sudah merasakan atau mengalami hal yang sama seperti yang Anda alami saat ini. Biasanya, itu terjadi, Anda merasakan rasa keakraban dan keanehan seolah-olah Anda sudah pernah mengalaminya sebelumnya, tapi Anda tidak bisa menentukan kapan atau di mana. Beberapa atribut ini terjadi pada mimpi, dan Anda merasa Déjà vu saat hal yang sama terjadi dalam kenyataan. Namun, yang lain percaya bahwa itu timbul karena Anda pernah mengalami situasi yang sama di masalalu Anda namun tidak dapat sepenuhnya mengingatnya kembali.

2. Déjà visité - Memiliki pengetahuan luar biasa tentang tempat yang belum pernah Anda kunjungi sebelumnya

Déjà visité membuat Anda merasa seperti Anda sudah tahu tempat yang belum pernah Anda lihat. Beberapa orang merasakan rasa keakraban aneh saat mereka mengunjungi daerah tertentu, namun pada saat bersamaan bingung bagaimana atau mengapa. Kondisi ini terbentuk pada hubungan spasial, dan beberapa dipengaruhi olehnya lebih dari yang lain. Banyak di sepanjang sejarah telah mendokumentasikan fenomena aneh ini dengan menuliskan pengalaman mereka dalam buku dan cerita pendek. Meski begitu, belum ada yang bisa mengerti mengapa atau bagaimana fenomena semacam itu ada.

3. Capgras Delusion - Percaya bahwa seseorang yang dekat dengan Anda telah digantikan oleh penipu

Fenomena ini membuat Anda percaya bahwa teman dekat atau anggota keluarga ditukar dengan penipu yang terlihat persis seperti mereka. Berabad-abad yang lalu, di abad pertengahan, ada banyak cerita tentang bayi yang dicuri dan beralih dari perubahan. Changelings diyakini sebagai anak peri dalam cerita rakyat abad pertengahan. Bahkan saat ini, ada ratusan ribu orang yang percaya bahwa seseorang yang dekat dengan mereka diculik dan digantikan oleh orang asing. Penggambaran Capgras banyak ditemukan pada mereka yang menderita skizofrenia, tapi bisa juga terjadi pada gangguan mental lainnya.

4. Delusi Fregoli - Berpikir bahwa setiap orang di sekitar Anda sebenarnya adalah satu orang dengan banyak penyamaran

Penggambaran Fregoli mirip dengan khayalan Capgras, namun ada beberapa perbedaan yang signifikan. Orang yang menderita khayalan ini berpikir bahwa dunia disekitarnya dipenuhi dengan satu orang yang berbeda memakai penyamaran dan hidup seperti orang lain.Paranoia umum terjadi pada individu dengan fenomena ini. Nama itu dinamai sebagai aktor bernama Leopoldo Fregoli yang terkenal karena berubah menjadi kostum yang berbeda selama penampilannya.

5. Prosopagnosia - Tidak bisa mengenali wajah orang yang sudah Anda kenal

Prosopagnosia, atau kebutaan wajah, adalah fenomena unik yang membuat tidak mungkin orang mengenali wajah teman, anggota keluarga, atau siapa pun yang sudah mereka kenal. Mereka yang terpengaruh oleh kondisi ini biasanya menggunakan indra mereka yang lain-seperti bau atau sentuhan-untuk mengenali orang lain. Beberapa bahkan ingat gaya rambut atau suara untuk identifikasi. Mereka yang menderita juga memiliki waktu yang sulit mengidentifikasi lokasi, hewan, dan tengara. Dipercaya bahwa hampir 2% populasi dunia menderita kondisi mental ini.

6. Apophenia - Melihat pola dimana sebenarnya tidak ada

Apophenia membuat orang melihat pola yang tidak ada. Pikiran mereka menciptakan citra yang familier pada benda-benda duniawi seperti roti atau noda di dinding karena otak mereka memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengatur dan memproses pengenalan pola. Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang menyatakan bahwa mereka melihat citra hantu di rumah dan sebagainya, apophenia adalah apa yang membuat mereka melihat gambar itu.

7. Cotard Delusion - Penderita memegang keyakinan delusional bahwa mereka sudah meninggal

The delta Cotard juga dikenal sebagai sindrom "mayat berjalan". Orang yang terkena dampak percaya bahwa mereka telah meninggal. Beberapa bahkan percaya bahwa mereka tidak memiliki organ dan darah. Beberapa berhenti makan dan minum karena mereka yakin bahwa mereka tidak memerlukan makanan untuk bertahan hidup. Orang yang terkena kondisi ini juga rentan terhadap depresi berat. Pengobatan sangat penting bagi penderitanya, karena bisa sangat merusak kesehatan mereka jika dibiarkan sendiri.

8. Sindrom Alice in Wonderland - Kondisi neurologis yang membingungkan yang mempengaruhi persepsi

Sindrom Alice in Wonderland (atau sindrom Todd) adalah suatu kondisi yang membuat seseorang melihat benda-benda di sekitarnya lebih besar atau lebih kecil dari pada mereka. Kondisi ini tidak permanen-akan muncul dalam jangka waktu yang singkat, namun mungkin terjadi beberapa kali dalam sehari. Hal ini dinamai Alice in Wonderland bukan hanya karena Alice mengalami situasi yang sama, tapi juga karena penulis Lewis Carroll diyakini telah menderita sindrom tersebut. Sindrom ini umumnya juga menargetkan anak-anak dengan mempengaruhi persepsi visual mereka.

9.Hyper thymesia - Kondisi memiliki memori otobiografi yang sangat rinci

Fenomena ini memberi beberapa kemampuan untuk mengingat hampir semua hal yang pernah terjadi dalam kehidupan mereka dalam detail yang rumit.Terkadang, kemampuan ini tidak muncul sampai di kemudian hari, dan ada beberapa kasus di mana orang mengingat semua hal yang terjadi setelah usia tertentu namun hanya memiliki sedikit kenangan akan pengalaman sebelumnya. Hal ini juga sangat jarang, hanya 20 orang di dunia yang memiliki kemampuan ini.

10.Boanthropy - Penderita percaya bahwa dia adalah sapi

Gangguan ini membuat seseorang percaya bahwa mereka adalah sapi. Mereka biasanya menjadi vegetarian dan mulai fokus pada rasa rumput. Dalam kasus yang lebih parah, mereka merangkak dan makan rumput tanpa menggunakan tangan mereka. Penyebab pasti masih belum diketahui, namun diyakini bahwa kegelisahan memainkan peran penting dalam kondisi ini.

Studi Baru Mengidentifikasi Empat Jenis Pengguna Facebook

Facebook


Facebook tidak diragukan lagi merupakan jejaring sosial terbesar dan terpopuler saat ini. Diperkirakan dua miliar orang menggunakan platform ini setiap bulan untuk berbagi cerita, mengungkapkan pendapat, membuat pengumuman, berbagi dengan orang lain, terhubung dengan orang lain, atau hanya stalking. Dengan segudang karakter warna-warni yang pernah Anda lihat di komunitas Facebook Anda sendiri, Anda mungkin bisa menemukan banyak pengguna Facebook. Menurut ilmu pengetahuan, bagaimanapun, hanya ada empat jenis utama yang perlu Anda ketahui.

Sebuah penelitian data baru yang dilakukan di Universitas Brigham Young (BYU) di Provo, Utah, berjudul I   FB: Analisis Q-Metodologi Mengapa Orang 'Suka' Facebook, memecah empat jenis pengguna Facebook. Untuk penelitian tersebut, tim menyusun daftar 48 pernyataan yang menjelaskan mengapa orang menggunakan Facebook. Peserta dalam penelitian ini kemudian diminta untuk memilih pernyataan yang paling sesuai dengan aktivitas jaringan sosial mereka sendiri dan menempatkannya dalam skala dari "paling" menjadi "Sangat tidak saya suka"

Salah satu rekan penulis studi tersebut, Kris Boyle, mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Media sosial begitu mendarah daging dalam segala hal yang kita lakukan saat ini.Kebanyakan orang tidak memikirkan mengapa mereka melakukannya, tapi jika orang bisa mengenali kebiasaan mereka, setidaknya menciptakan kesadaran. "

1. Selfies
Selfies melihat Facebook sebagai sarana untuk mempromosikan diri. Mereka suka memposting foto, video, dan update status dengan tujuan mendapatkan perhatian dan mendapatkan suka dan berkomentar. Menurut penelitian tersebut, Selfies menggunakan Facebook untuk memproyeksikan citra dirinya sendiri, akurat maupun tidak. Selfies dalam penelitian ini dapat berhubungan paling banyak dengan pernyataan tersebut: "Semakin banyak 'alarm pemberitahuan' yang saya terima, semakin saya merasa disetujui oleh rekan-rekan saya."

2. Relationship builders
Relationship Builders menggunakan Facebook untuk memperkuat hubungan yang mereka miliki dengan orang yang mereka kenal, seperti keluarga dan teman kehidupan nyata mereka. Jaringan sosial berfungsi sebagai perpanjangan dari kehidupan sosial Relationship Builder. Peserta dalam penelitian yang termasuk dalam tipe ini sangat teridentifikasi dengan pernyataan tersebut: "Facebook membantu saya untuk mengungkapkan cinta kepada keluarga saya dan membiarkan keluarga saya mengungkapkan cinta kepada saya."

3. Kota Criers
Bagi Town Criers, ada kesenjangan yang jauh lebih besar antara dunia nyata dan dunia maya mereka. Mereka kurang peduli untuk berbagi informasi pribadi dan lebih tertarik untuk mendorong informasi bermanfaat. Mereka suka menerbitkan ulang berita dan mengumumkan acara, dan mereka lebih memilih untuk memperbarui jaringan mereka tentang usaha pribadi mereka melalui cara lain.

4. Window shoppers
Seperti Town Criers, Window Shoppers merasakan rasa tanggung jawab berada di Facebook - tapi terutama untuk melihat apa yang orang lain lakukan.Ini setara virtual dengan orang-orang menonton (atau Anda juga bisa menyebutnya mengintai). Studi tersebut menemukan bahwa peserta Window Shopper paling memperhatikan pernyataan tersebut: "Saya dapat dengan leluasa melihat profil Facebook seseorang yang saya taksir dan mengetahui kepentingan dan status hubungan mereka."

Jadi, Anda termasuk pengguna facebook yang mana? Beri tahu saya pendapat anda melalui komentar di bawah ini!

Apa itu Globalisasi ? | Pengertian Globalisasi

Globalisasi mengacu pada kecenderungan perdagangan internasional, investasi, teknologi informasi dan pembuatan outsourcing untuk membangun ekonomi negara-negara yang beragam. Dalam bisnis dan keuangan, ini terutama mengacu pada integrasi ekonomi pasar global, namun istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan integrasi sosio-kultural antar negara. Secara keseluruhan, globalisasi telah memiliki efek yang sangat meningkat baik pertukaran perdagangan dan budaya internasional.

Globalisasi telah dikreditkan dengan membantu mengalihkan kekayaan kenegara-negara yang kurang berkembang. Namun, globalisasi juga sering disalahkan atas hilangnya lapangan kerja di negara maju, karena perusahaan mengirimkan fasilitas manufaktur dan pekerjaan ke luar negeri untuk menghemat biaya. kritikus mengatakan hal itu juga melemahkan kedaulatan nasional.

Tujuan globalisasi adalah untuk memberi organisasi keunggulan kompetitif melalui biaya operasi yang lebih rendah dan perolehan lebih banyak produksi, layanan dan konsumen. Salah satu cara utama yang dilakukan adalah melalui diversifikasi sumber daya, membuka pasar tambahan dan mengakses bahan baku baru.Dan memang, ini telah membawa seluruh dunia bersama-sama, dengan perusahaan multinasional memproduksi, membeli dan menjual barang di seluruh dunia. Sebagai contoh, sebuah perusahaan mobil yang berbasis di Jepang mungkin memiliki suku cadang mobil yang diproduksi di beberapa negara berkembang yang berbeda, kemudian mengirimkan suku cadang ke negara lain untuk perakitan, dan kemudian menjual mobil yang telah selesai ke negara-negara di mana-mana.

Globalisasi bukanlah konsep yang sama sekali baru - jauh zaman kuno, kafilah melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan barang berharga seperti garam, rempah-rempah dan emas, kemudian diperdagangkan atau menjualnya kembali ke negara asal mereka. Dengan dimulainya Revolusi Industri di abad ke-19, setiap kemajuan dalam komunikasi dan transportasi membantu mengurangi perbatasan dan meningkatkan hubungan ekonomi antar negara. Namun dalam beberapa dekade terakhir, globalisasi telah terjadi dengan kecepatan dan cakupan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Apa yang Menimbulkan Globalisasi?

Kebijakan dan teknologi publik adalah dua faktor pendorong utama di balik ledakan globalisasi saat ini.Selama 20 tahun terakhir, berbagai pemerintah di seluruh dunia telah mengintegrasikan sistem ekonomi pasar bebas ke dalam kebijakan fiskal, kebijakan moneter dan kesepakatan perdagangan. Evolusi sistem ekonomi ini telah merangsang potensi produksi dalam negeri dan membuka negara untuk meningkatkan peluang keuangan di luar negeri. Pemerintah dunia sekarang fokus pada penurunan hambatan untuk berdagang dan secara aktif mempromosikan perdagangan internasional dalam kaitannya dengan investasi, barang dan jasa.

Teknologi juga menjadi alasan utama pertumbuhan globalisasi. Kemajuan teknologi informasi dan arus informasi lintas batas telah membantu orang menjadi lebih tahu tentang tren ekonomi dan peluang investasi, dan mempermudah mereka untuk mentransfer aset keuangan dan berinvestasi di luar negeri. Teknologi juga meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi secara internasional, dan membuatnya lebih mudah dan lebih cepat dari sebelumnya untuk melakukannya.

Arti Globalisasi lebih luas

Globalisasi telah berkembang melampaui ekonomi menjadi fenomena sosial, budaya, politik dan hukum. Secara sosial, globalisasi menggambarkan peningkatan tingkat interkoneksi antara orang-orang di dunia dan kehidupan, pekerjaan dan keluarga mereka. Sebagai fenomena budaya, itu berarti pertukaran gagasan dan nilai di antara budaya dan menyiratkan, bagi sebagian orang, kecenderungan perkembangan budaya dunia tunggal.

Globalisasi politik mengacu pada pergeseran aktivitas politik dari tingkat nasional ke tingkat global melalui organisasi antar pemerintah seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Perdagangan Dunia.

Kontroversi Globalisasi

Perdebatan berlanjut dengan efek negatif dan positif dari globalisasi dalam semua konteksnya.

Keuntungan Globalisasi

Pendukung mengatakan bahwa globalisasi membantu negara-negara berkembang mengejar negara-negara industri lebih cepat, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan manufaktur, melakukan diversifikasi dan memperluas ekonomi mereka, dan meningkatkan standar kehidupan secara keseluruhan.China adalah contoh bagus negara yang sangat diuntungkan dari globalisasi dengan cara ini

Secara khusus, praktik outsourcing membawa pekerjaan dan teknologi ke negara-negara berkembang - bersama dengan menawarkan perusahaan outsourcing keuntungan mengurangi biaya tenaga kerja dan produksi. Inisiatif seperti North American Free Trade Agreement (NAFTA), misalnya, mendorong produsen mobil AS untuk memindahkan fasilitas ke Meksiko. Banyak perusahaan AS juga mengalihkan call center ke India.

Dampak positif lainnya dari globalisasi adalah perluasan konsep keadilan sosial dari skala nasional ke skala internasional untuk memasukkan persamaan, hak asasi manusia dan martabat semua orang di dunia. Secara hukum, pendukung laporan globalisasi bahwa tren tersebut telah memfasilitasi promosi hak asasi manusia di seluruh dunia.

Kekurangan Globalisasi

Sementara globalisasi sering dipuji karena memiliki banyak efek positif, para ekonom juga mengamati dampak negatifnya. Ketika ekonomi negara saling terkait, kemerosotan ekonomi di satu negara dapat melintasi perbatasan dan mempengaruhi ekonomi negara-negara lain. Kritikus berpendapat bahwa saling ketergantungan ini mengancam melemahkan beberapa negara dan ekonomi melalui efek domino ketika sebuah masalah muncul. Misalnya, ketika ekonomi Yunani hampir runtuh akibat krisis utang pada 2009-10, dampaknya dirasakan di seluruh Eropa, dan banyak negara, seperti Jerman, yang berusaha memastikan ekonomi mereka sendiri juga tidak akan menderita.

Kritik lain yang umum terjadi terhadap globalisasi adalah bahwa perusahaan tersebut secara tidak proporsional menguntungkan perusahaan di dunia Barat, meningkatkan kesenjangan kekayaan: orang kaya semakin kaya sementara orang miskin terus menjadi lebih miskin.Tentu saja, trenperdagangan bebasberarti ada risiko kegagalan yang lebih tinggi untuk perusahaan swasta yang lebih kecil, pribadi atau keluarga yang tidak dapat bersaing di pasar global.Lalu ada kesenjangan digital, antara komputer dan akses internet dan yang tidak, yang diklaim kritikus menghasilkan konsentrasi informasi, dan oleh karena itu kekuasaan, di tangan elit kecil. Berkat globalisasi, para penentang mengatakan, beberapa kelompok telah memperoleh sumber daya dan kekuasaan yang melebihi negara manapun, yang memungkinkan mereka untuk menimbulkan ancaman baru terhadap hak asasi manusia dalam skala internasional.

Kritikus lain mengakui bahwa standar kehidupan global telah meningkat secara keseluruhan karena industrialisasi berakar di negara-negara dunia ketiga, namun mempertahankan bahwa standar hidup telah jatuh di negara maju. Beberapa politisi bahkan berpendapat bahwa kelas menengah semakin berkurang di Amerika Serikat berkat globalisasi.

mengutip pemanasan global dan perubahan iklim, karena gas rumah kaca yang dipancarkan oleh perluasan fasilitas industri, sebagai efek politik negatif globalisasi. Penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan sumber daya alam adalah konsekuensi berbahaya lainnya dari tuntutan yang meningkat untuk barang-barang suatu negara

Dan sementara globalisasi telah membantu ekonomi dan masyarakat berkembang dan berkembang, itu juga membuat mereka lebih homogen, kritikus membebankan biaya. Contoh kasus: Pertumbuhan rantai internasional yang menghasilkan restoran yang sama - Starbucks atau Shake Shack - di setiap sudut kot terdapat - Apple, Nike, The Gap - lalu di setiap kota.Seperti yang ditunjukkan oleh contoh-contoh ini, pertukaran budaya yang disebut sebagian besar bersifat sepihak: barang dan budaya Amerika telah menyebar ke negara lain lebih banyak daripada negara lain, yang seringkali merugikan merek dan pakaian asli yang tidak dapat bersaing dengan raksasa global, seperti yang disebutkan di atas. Jadi, negara-negara berakhir dengan masyarakat yang sangat mirip satu sama lain.